One For All, Animasi Baru yang Jadi Bahan Obrolan

Belakangan ini, jagat maya lagi ramai membicarakan film animasi One For All. Hadir bertepatan dengan momen HUT ke-80 RI, film ini mengusung semangat persatuan dan nasionalisme. Tapi bukan netizen namanya kalau nggak kritis—film ini justru jadi bahan perdebatan panas: ada yang salut dengan idenya, ada juga yang kurang puas dengan eksekusinya.

Jadi, apa sih sebenarnya yang bikin One For All jadi sorotan? Yuk kita kupas pro dan kontranya.

Pro: Niat Mulia dan Tema Nasionalis

  • Pesan Kebangsaan yang Relevan

Di tengah suasana masyarakat yang gampang terpecah karena medsos, One For All coba hadir sebagai pengingat pentingnya kebersamaan. Tema ini jelas nyambung dengan generasi muda maupun dewasa yang ingin konten lokal punya “jiwa”.

  • Dukungan untuk Industri Animasi Lokal

Banyak penonton mengapresiasi keberanian tim kreatif untuk tampil dengan animasi panjang. Nggak gampang lho bersaing dengan dominasi film luar yang udah punya standar tinggi.

  • Momentum Tepat

Dirilis dekat momen kemerdekaan, film ini otomatis punya tempat spesial di hati sebagian penonton yang memang rindu tontonan dengan sentuhan nasionalisme.

Kontra: Kritik yang Nggak Bisa Diabaikan

Tapi, di balik semangat positif tadi, kritik juga datang deras.

  • Kualitas Visual Masih Kasar

Banyak yang bilang karakter dan animasinya terlihat kaku. Gerakan belum natural, pencahayaan datar, dan beberapa adegan terasa kurang halus. Bagi penonton yang terbiasa dengan animasi luar negeri, perbedaan ini jadi sangat mencolok.

  • Dialog Terlalu Menggurui

Alih-alih bikin haru, beberapa penonton merasa percakapan antar tokoh justru kaku. Pesan moral yang kuat jadi terdengar seperti “ceramah”, bukan dialog natural.

  • Isu Etika Kreatif

Ada juga yang menyoroti dugaan penggunaan aset stok dan musik berbasis AI. Hal ini bikin sebagian orang mempertanyakan orisinalitas karya dan proses kreatifnya.

  • Kurangnya Transparansi

Netizen juga kepo soal biaya produksi dan siapa saja yang terlibat di balik layar. Sayangnya, belum ada penjelasan detail yang bisa menenangkan rasa penasaran itu.

Tabel Ringkas Pro vs Kontra

AspekPro (Dukungan)Kontra (Kritik)
Tema & pesanPersatuan & nasionalisme relevanDialog terasa kaku dan menggurui
Animasi VisualAda usaha memajukan animasi lokalGerakan kaku, pencahayaan kurang, kalah dibanding film luar
Etika ProduksiDugaan pakai aset stok & musik AI
TransparansiPublik merasa info produksi masih minim

Apa Kata Publik?

Segmen penonton dewasa muda biasanya kritis tapi juga suportif. Dari pantauan medsos, mereka terbelah dua:

  • Tim Pro: Salut dengan niat baik dan tema nasionalis. Menurut mereka, film ini harus dilihat sebagai langkah awal, bukan hasil akhir.
  • Tim Kontra: Nggak bisa tutup mata dengan kualitas yang dianggap “belum layak tayang”. Harapannya, kritik ini bisa jadi masukan agar proyek animasi berikutnya lebih matang.

Jadi, Worth It Ditonton Nggak?

Kalau kamu penggemar animasi, mungkin ekspektasi harus diturunkan sedikit. Tapi kalau kamu mendukung karya anak bangsa dan pengen lihat bagaimana film lokal berkembang, One For All layak jadi tontonan untuk sekadar menilai arah industri animasi kita.

Bagaimanapun juga, film ini membuka diskusi penting: apakah kita cukup mendukung karya lokal dengan segala kekurangannya, atau sebaliknya harus keras agar kualitas terus naik?

Film animasi One For All memang datang dengan semangat yang besar: membangkitkan persatuan lewat medium animasi. Tapi eksekusinya menuai pro-kontra yang sama besarnya.

Apapun posisi kita—pro atau kontra—film ini udah berhasil mencapai satu hal: membuat publik peduli pada animasi lokal. Dan itu, bisa jadi, adalah kemenangan awal yang sebenarnya.