Financial planning sering terdengar seperti konsep yang rapi dan ideal. Ada target dana darurat enam bulan, investasi rutin, tabungan pensiun, sampai dana liburan. Di atas kertas terlihat masuk akal, tapi di kehidupan nyata Gen Z, semuanya terasa… berat.
Gaji baru masuk, kebutuhan langsung menyapa. Biaya hidup naik pelan tapi konsisten, sementara pemasukan sering terasa jalan di tempat. Di kondisi seperti ini, banyak Gen Z akhirnya menyerah sebelum mulai, karena merasa “belum layak” mengatur keuangan.
Padahal, financial planning versi Gen Z tidak harus sempurna. Yang penting masuk akal dan bisa dijalani.
Mulai dari Bertahan, Bukan Langsung Kaya
Kesalahan terbesar saat membahas keuangan adalah menjadikan “kaya” sebagai titik awal. Untuk Gen Z, tujuan pertama seharusnya bukan kaya, tapi bertahan dengan tenang.
Bertahan artinya:
- Tidak panik saat ada kebutuhan mendadak
- Tidak bergantung penuh pada utang
- Tidak stres tiap akhir bulan
Dana darurat kecil, meski hanya satu kali gaji, sudah jauh lebih berguna daripada rencana investasi besar yang tidak pernah jalan.
Budgeting Realistis Lebih Awet daripada Ideal
Banyak metode budgeting terdengar bagus, tapi sulit diterapkan. Aturan klasik sering gagal karena tidak mempertimbangkan realita hidup Gen Z.
Financial planning yang masuk akal justru:
- Fleksibel
- Disesuaikan dengan gaya hidup
- Tidak membuat merasa bersalah saat sesekali “nikmatin hidup”
Budget bukan alat menghukum, tapi alat mengarahkan.
Menabung di Tengah Keinginan Healing
Gen Z hidup di era di mana self-reward dan healing dianggap penting. Financial planning yang menolak realita ini justru mudah ditinggalkan.
Kuncinya bukan melarang, tapi mengatur porsi. Healing yang direncanakan jauh lebih sehat daripada impulsif.
Kalau semua keinginan ditekan, ujungnya justru meledak dalam satu pengeluaran besar.
Investasi: Pelengkap, Bukan Beban
Banyak Gen Z merasa gagal karena belum investasi. Padahal, investasi bukan kewajiban moral. Investasi yang sehat:
- Tidak mengganggu kebutuhan utama
- Tidak membuat stres harian
- Dipahami risikonya
Mulai kecil tidak masalah. Konsisten jauh lebih penting daripada besar tapi sebentar.
Transisi Hidup Perlu Penyesuaian
Financial planning Gen Z harus adaptif. Saat status hidup berubah—dari single ke menikah, dari bebas ke punya tanggungan—rencana keuangan juga harus berubah.
Tidak ada rencana keuangan yang abadi. Yang ada adalah rencana yang terus disesuaikan.
Financial Planning = Kontrol, Bukan Kontes
Tujuan akhir dari perencanaan keuangan bukan pamer pencapaian, tapi rasa aman.
Aman berarti:
- Tahu ke mana uang pergi
- Tidak takut masa depan
- Bisa membuat keputusan tanpa panik
Dan itu sudah lebih dari cukup.